![]() |
| Ketika Desa Tak Lagi Tertinggal? Generasi Muda Buay Bahuga dan Gaya Hidup Remote |
Desa yang Dulu Ditinggalkan, Kini Mulai Diperhitungkan
Beberapa tahun lalu, kata “desa” sering identik dengan “ketertinggalan.” Akses internet yang lemah, peluang kerja minim, dan jarak dari pusat kota membuat banyak anak muda memilih pergi ke luar daerah mencari nasib di kota besar. Tapi hari ini, narasinya mulai berubah.
Di Buay Bahuga, sebuah kecamatan di Lampung, angin perubahan sedang berhembus. Generasi mudanya tak lagi sibuk memimpikan hidup di kota; mereka justru membangun masa depan tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
Desa ini mulai menyadari: di era digital, yang menentukan kemajuan bukan lokasi, tapi koneksi dan kreativitas.
Pernahkah kamu membayangkan bekerja untuk perusahaan luar negeri dari ruang tamu rumahmu di kampung? Dulu itu terdengar seperti mimpi, tapi sekarang jadi realita.
Akses internet di Buay Bahuga yang makin stabil membuka banyak pintu. Banyak anak muda kini mengenal pekerjaan remote bekerja jarak jauh tanpa harus pindah ke kota. Dari desain grafis, copywriting, penerjemahan, sampai pengelolaan media sosial, semua bisa dilakukan hanya dengan laptop dan koneksi internet yang baik.
Yang menarik, sebagian besar dari mereka belajar secara otodidak. YouTube, platform kursus online, dan komunitas digital lokal menjadi “kampus” baru bagi anak muda desa.
Generasi Buay Bahuga: Antara Sawah dan Laptop
Bayangkan pemandangan ini: pagi hari membantu orang tua di sawah, sore harinya mengerjakan proyek klien dari Jakarta, Singapura, atau bahkan Eropa.
Inilah potret baru generasi muda Buay Bahuga. Mereka hidup di dua dunia sekaligus tetap menjaga akar desa, tapi berpikir global.
Beberapa dari mereka bahkan mulai membuka coworking space sederhana di rumah atau warung kopi. Tempat nongkrong itu kini berubah jadi pusat ide digital: tempat berbagi ilmu, brainstorming proyek, atau sekadar memperbaiki portofolio freelancer.
“Kerja dari desa bukan berarti ketinggalan. Malah hemat, tenang, dan bisa tetap dekat sama keluarga,” kata Roni, salah satu freelancer asal Buay Bahuga yang kini bekerja sebagai content strategist untuk brand luar negeri.
Lambat laun, muncul ekosistem kecil tapi solid. Mereka punya grup WhatsApp khusus untuk membagikan lowongan freelance, link pelatihan, sampai informasi lomba atau beasiswa online.
Dari sini terlihat bahwa kemajuan digital di desa bukan hanya soal teknologi tapi tentang komunitas dan kolaborasi. Istilah desa digital sering terdengar dalam program pemerintah, tapi di Buay Bahuga, konsep itu benar-benar hidup. Tidak melulu harus punya gedung canggih atau program besar-besaran.
Yang terpenting adalah mentalitas: bahwa anak muda bisa menciptakan nilai ekonomi dari desa dengan memanfaatkan teknologi.
Dari membuat konten promosi UMKM lokal, menjual produk kerajinan lewat marketplace, hingga menjadi digital nomad yang bekerja lintas negara semuanya bermula dari niat untuk memanfaatkan peluang digital dengan bijak. Dan inilah titik baliknya: desa tidak lagi identik dengan tertinggal.
Gaya Hidup Remote: Antara Kebebasan dan Disiplin
Meski terdengar ideal, gaya hidup remote tidak selalu mudah. Tantangan terbesar justru datang dari manajemen waktu dan konsistensi.
Bekerja dari rumah memang nyaman, tapi juga menuntut tanggung jawab yang besar. Banyak anak muda Buay Bahuga yang mengaku sempat kewalahan di awal tergoda rebahan, koneksi internet tiba-tiba turun, atau lingkungan sekitar belum terbiasa dengan jam kerja fleksibel.
Di sisi lain, remote lifestyle memberi kebebasan luar biasa: tak perlu terjebak macet, bisa bekerja sambil menikmati sawah yang hijau, dan tetap dekat dengan keluarga. Sebuah kemewahan yang sulit didapat di kota.
Kalau Buay Bahuga bisa, desa lain pun bisa. Mulailah dari hal sederhana: belajar, berbagi, dan percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari layar laptop di ruang tamu rumahmu.

