![]() |
| Kampung Agraris Sukabumi Buay Bahuga di Perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan |
Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, Kampung Sukabumi berdiri tenang di Kecamatan Buay Bahuga, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kampung ini tidak hanya sekadar tempat tinggal, tapi juga cerminan kehidupan pedesaan yang masih memegang erat nilai gotong royong dan kearifan lokal. Dengan batas wilayah yang langsung bersinggungan dengan Provinsi Sumatera Selatan, Kampung Sukabumi menjadi salah satu titik strategis di ujung selatan Sumatera.
Sebagian besar masyarakat di sini berprofesi sebagai petani, menjadikan suasana kampung terasa sangat khas: sawah hijau membentang, aroma tanah basah setelah hujan, dan pemandangan aktivitas warga yang penuh kesederhanaan.
Letak dan Kondisi Geografis Kampung Sukabumi
Secara geografis, Kampung Sukabumi berada di wilayah timur laut Kabupaten Way Kanan. Dari pusat kecamatan Buay Bahuga, perjalanan menuju kampung ini bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor melalui jalan-jalan pedesaan yang dikelilingi hamparan sawah dan kebun.
Yang menarik, kampung ini berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan, menjadikannya semacam pintu penghubung antarprovinsi di tingkat lokal. Tak jarang, interaksi sosial dan ekonomi antara warga Sukabumi dan penduduk di seberang provinsi berjalan sangat akrab, seolah batas administratif tidak pernah menjadi penghalang.
Salah satu ciri khas Kampung Sukabumi adalah kehidupan agrarisnya yang kuat. Lebih dari setengah warganya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, baik itu padi, jagung, singkong, maupun perkebunan kecil seperti kelapa dan pisang.
Musim tanam di sini selalu menjadi momen yang dinanti. Ketika hujan mulai turun, sawah-sawah mulai diolah, dan suasana kampung berubah menjadi lebih hidup. Suara cangkul, gemericik air irigasi, dan tawa petani yang saling bercanda di tengah ladang adalah harmoni khas Sukabumi yang sulit ditemukan di perkotaan.
Selain itu, banyak warga yang juga memanfaatkan hasil kebun untuk dijual di pasar lokal. Meski skala usahanya kecil, aktivitas ekonomi berbasis pertanian ini menciptakan sirkulasi ekonomi mandiri yang membuat kampung tetap hidup dan berkembang.
Meski disebut kampung, Kampung Sukabumi tergolong cukup padat penduduknya. Rumah-rumah warga berdiri berdekatan, membentuk lingkungan yang hangat dan saling terhubung. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial masih sangat dijaga.
Misalnya, ketika ada warga yang sedang panen raya, tetangga-tetangga sering datang membantu tanpa pamrih. Begitu pula dalam acara hajatan, pembangunan rumah, atau perbaikan jalan desa. Semua dilakukan bersama, menciptakan rasa kebersamaan yang semakin mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Warga Kampung Sukabumi masih sangat menghormati adat dan budaya lokal. Upacara syukuran panen, kenduri, atau gotong royong membersihkan lingkungan dilakukan secara rutin. Tradisi ini tidak hanya sebagai simbol kebersamaan, tapi juga sebagai bentuk rasa syukur kepada alam dan Sang Pencipta.
Selain itu, hubungan antar generasi juga masih sangat kuat. Anak-anak tumbuh dengan mengenal nilai kerja keras sejak dini, membantu orang tua di sawah, dan belajar bagaimana menjaga tanah sebagai sumber kehidupan utama.

